Senin, 30 Agustus 2010

Kompetensi Guru

KOMPETENSI GURU
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, pasal 2 disebutkan bahwa Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, Kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kompetensi yang dimaksud adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi Guru bersifat holistik.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurangkurangnya meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. beriman dan bertakwa;
b. berakhlak mulia;
c. arif dan bijaksana;
d. demokratis;
e. mantap;
f. berwibawa;
g. stabil;
h. dewasa;
i. jujur;
j. sportif;
k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
m. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
a. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku; dan
e. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

Kompetensi profesional merupakan kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
b. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.

Kompetensi Guru dirumuskan ke dalam:
a. standar kompetensi Guru pada satuan pendidikan di TK atau RA, dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat;
b. standar kompetensi Guru kelas pada SD atau MI, dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat;
c. standar kompetensi Guru mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran pada SMP atau MTs, SMA atau MA, SMK atau MAK dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat; dan
d. standar kompetensi Guru pada satuan pendidikan TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat.

Standar kompetensi Guru dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Rabu, 28 Juli 2010

Beternak Jangkrik Aja...



Written by http://laropstarscanary.blogspot.com/
Tuesday, 12 May 2009 13:11

Tips beternak Jangkrik

Dewasa ini pada masa krisis ekonomi di Indonesia, budidaya jangkrik (Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya memerlukan waktu ± 2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2-3 bulan.

Jangkrik betina mempunyai siklus hidup ± 3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu memproduksi lebih dari 500 butir telur.

Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.


Telah diutarakan didepan bahwa untuk sementara ini, sentra peternakan jangkrik adalah dikota-kota besar dipulau jawa karena kebutuhan dari jangkrik sangat banyak. Sedangkan diluar pulau jawa sementara ini masih banyak didapatkan dari alam, sehingga belum banyak peternakan-peternakan jangkrik.

Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.

Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.

LOKASI
1. Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang baik.
2. Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya.
3. Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Menurut Farry, 1999, ternak jangkrik merupakan jenis usaha yang jika tidak direncanakan dengan matang, akan sangat merugikan usaha. Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan usaha ternak jangkrik, yaitu penyusunan jadwal kegiatan, menentukan struktur organisasi, menentukan spesifikasi pekerjaan, menetapkan fasilitas fisik, merencanakan metoda pendekatan pasar, menyiapkan anggaran, mencari sumber dana dan melaksanakan usaha ternak jangkrik.

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran. Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang. Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang.

Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman. peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm. Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.
2. Pembibitan
1. 1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.
Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:
a. Indukan:
sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
§
kedua kaki belakangnya masih lengkap.
§
bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
§
badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
§
pilihlah induk yang besar.
§
dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.
§
b. Induk jantan:
selalu mengeluarkan suara mengerik.
§
permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
§
tidak mempunyai ovipositor di ekor.
§
Induk betina:
§
tidak mengerik.
§
permukaan punggung atau sayap halus.
§
ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.
§
2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.
3. Sistem Pemuliabiakan
Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.
4. Reproduksi dan Perkawinan
Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuan-ramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin.
Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.
Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).
5. Proses kelahiran
Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.
3. Pemeliharaan
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.
2. Pengontrolan Penyakit
Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit.
3. Perawatan Ternak
Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).
4. Pemberian Pakan
Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung muda dan gambas. Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain : sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan dicampur menjadi satu.
5. Pemeliharaan Kandang
Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya jangan sampai masuk kedalam kandang.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1. Penyakit, Hama dan Penyebabnya
Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.
2. Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit
Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.
3. Pemberian Vaksinasi dan Obat
Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan vaksinasi tidak diperlukan.
8. PANEN
1. Hasil Utama
Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.
2. Penangkapan
Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah, disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual belikan. Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual.



BUDIDAYA TERNAK JANGKRIK
( Gryllus mitratus Burm )

1. SEJARAH SINGKAT

Dewasa ini pada masa krisis ekonomi di Indonesia, budidaya jangkrik (Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya memerlukan waktu ± 2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2-3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup ± 3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu memproduksi lebih dari 500 butir telur.

Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.

2. SENTRA PERIKANAN

Telah diutarakan didepan bahwa untuk sementara ini, sentra peternakan jangkrik adalah dikota-kota besar dipulau jawa karena kebutuhan dari jangkrik sangat banyak. Sedangkan diluar pulau jawa sementara ini masih banyak didapatkan dari alam, sehingga belum banyak peternakan-peternakan jangkrik.

3. JENIS

Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.

4. MANFAAT

Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.

5. PERSYARATAN LOKASI

  1. Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang baik.
  2. Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya.
  3. Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Menurut Farry, 1999, ternak jangkrik merupakan jenis usaha yang jika tidak direncanakan dengan matang, akan sangat merugikan usaha. Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan usaha ternak jangkrik, yaitu penyusunan jadwal kegiatan, menentukan struktur organisasi, menentukan spesifikasi pekerjaan, menetapkan fasilitas fisik, merencanakan metoda pendekatan pasar, menyiapkan anggaran, mencari sumber dana dan melaksanakan usaha ternak jangkrik.

  1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

    Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran. Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang. Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang.


    Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman. peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm. Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.

  2. Pembibitan

    1. 1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
      Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.
      Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:
      1. Indukan:
        • sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
        • kedua kaki belakangnya masih lengkap.
        • bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
        • badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
        • pilihlah induk yang besar.
        • dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.
      2. Induk jantan:
        • selalu mengeluarkan suara mengerik.
        • permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
        • tidak mempunyai ovipositor di ekor.
        • Induk betina:
        • tidak mengerik.
        • permukaan punggung atau sayap halus.
        • ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.

    2. Perawatan Bibit dan Calon Induk

      Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.

    3. Sistem Pemuliabiakan

      Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.

    4. Reproduksi dan Perkawinan

      Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuan-ramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin.

      Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.

      Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).

    5. Proses kelahiran

      Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.

  3. Pemeliharaan

    1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

      Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.

    2. Pengontrolan Penyakit

      Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit.

    3. Perawatan Ternak

      Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).

    4. Pemberian Pakan

      Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung muda dan gambas. Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain : sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan dicampur menjadi satu.

    5. Pemeliharaan Kandang

      Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya jangan sampai masuk kedalam kandang.

7. HAMA DAN PENYAKIT

  1. Penyakit, Hama dan Penyebabnya

    Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.

  2. Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit

    Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.

  3. Pemberian Vaksinasi dan Obat

    Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan vaksinasi tidak diperlukan.

8. PANEN

  1. Hasil Utama

    Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.

  2. Penangkapan

    Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah, disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual belikan. Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual.

9. PASCAPANEN …

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

  1. Analisis Usaha Budidaya
    Perkiraan analisis budidaya telur jangkrik sebanyak 10 kotak untuk 1 periode pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
    1. Biaya Produksi
      1. Biaya Tidak Tetap
        • Indukan
          • Induk Jantan 1.000 ekor @ Rp.700,- -------Rp . 700.000,-
          • Induk Betina 5.000 ekor @ Rp. 500,- ------Rp. 2.500.000,-
        • Makanan dan Vitamin
          • Sayuran -------------------------------------Rp. 100.000,-
          • Konsentrat 10 kg @ Rp.5.000,- ------------Rp. 50.000,-
          • Vitamin 10 btl @ Rp. 5.000,- ---------------Rp. 50.000,-
          • Tenaga Kerja 60 HOK @ Rp. 10.000,- ----Rp. 600.000,-
      2. Biaya Tetap
        • Bunga modal Investasi 20 %/ th ------------------Rp. 118.916,67
        • Bunga biaya tidak tetap 20 %/ th -----------------Rp. 133.333,33
        • Penyusutan kotak --------------------------------Rp. 38.583,33
        • Penyusutan alat ----------------------------------Rp. 7.875,-
        • Pemeliharaan kotak + alat 5 %/ th ----------------Rp. 2.322,92
        • Sewa Lokasi -------------------------------------Rp. 250.000,-
        • Listrik --------------------------------------------Rp. 50.000,-
          Jumlah biaya produksi ----------------------------Rp. 4.601.031,25,-
    2. Pendapatan 830 sdm @ Rp. 10.000,- ----------------------Rp. 8.300.000,-
    3. Keuntungan -------------------------------------------------Rp. 3.698.968,75
    4. Parameter kelayakan usaha : B/C ratio = 1,8
      Berikut ini adalah analisis usaha pembesaran jangkrik sebanyak 100 kotak untuk 1 periode pada tahun 1999.
      1. Biaya Produksi
        1. Biaya Tidak Tetap
          • Telur 100 sdk @ Rp.10.000,- Rp. 1.000.000,-
          • Makanan dan Vitamin
            • Sayuran Rp. 300.000,-
            • Konsentrat50 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
            • Vitamin50 btl @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
            • Tenaga Kerja300 HOK @ Rp.10.000,- Rp. 3.000.000,-
        2. Biaya Tetap
          • Bunga modal Investasi 20 %/ th Rp. 360.800,-
          • Bunga biaya tidak tetap 20 %/ th Rp. 240.000,-
          • Penyusutan kotak Rp. 455.625,-
          • Penyusutan alat + bahan Rp. 71.375,-
          • Pemeliharaan kotak 5 %/ th Rp. 52.700,-
          • Sewa Lokasi Rp. 375.000,-
          • Listrik Rp. 50.000,-
            Jumlah biaya produksi Rp. 6.404.700,-
      2. Penghasilan 830 sdm @ Rp. 10.000,- Rp.12.000.000,-
      3. Keuntungan Rp. 5.595.300,-
      4. Parameter kelayakan usaha : B/C ratio = 1,87

  2. Gambaran Peluang Agribisnis

    Penggunaan pestisida yang selama ini didapati pada lahan-lahan pertanian merupakan salah satu penyebab berkurangnya populasi jangkrik, demikian juga penangkapan jangkrik dialam yang dilakukan selama ini membuat penurunan drastis jumlah populasinya.

    Dengan alasan-alasan tersebut dan naiknya permintaan jangkrik, maka peternak tidak membiarkan begitu saja kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan membudidayakan jangkrik dengan intensif karena dengan waktu yang relatif singkat untuk memelihara jangkrik sudah mendapat keuntungan yang berlipat ganda.

    Dengan semakin banyaknya peternak-peternak jangkrik ini, permintaan untuk telur jangkrik semakin besar juga, jadi banyak peternak yang hanya memproduksi telur jangkrik karena resikonya lebih kecil dan lebih cepat lagi mendapatkan laba untuk sekitar 25-30 hari, dibandingkan proses pembesaran sampai dengan 3 bulan.

11. DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim, Bisnis Telur Jangkrik, Info Peluang No. 33, Edisi 1 Juli 1999
  2. ----------, Beternak Jangkrik Ala Samin, Info Agribisnis Trubus No.354, Edisi Mei 1999
  3. ----------, Jangkrik Peliha Untuk Tangkar, Info Agribisnis Trubus No. 355, Edisi Juni - 1999.
  4. ----------, Langkah Demi Langkah Beternak Jangkrik Produktif, Info Agribisnis Trubus-No. 356, Edisi Juli 1999.
  5. Adihendro, Rahasia Beternak Jangkrik, Ardy Agency, Jakarta, 1999.
  6. Arnett, Russ H., Jr. and Richard L. Jacques., Jr, Guide To Insects ( New York : Simon - and Schuster Inc., 1981)
  7. Borror, Donald J., Charles A. Triplehorn, Norman F. Johnson, Pengenalan Pelajaran -
  8. Serangga, Edisi 6, terjemahan Soetiyono Partosoedjono ( Yagyakarta; Universitas-Gajah Mada Press, 1992 ).
  9. Paimin B. Farry dan Pudjastuti L.E, Sukses Beternak Jangkrik, Penebar Swadaya, Jakarta, 1999.

12. KONTAK HUBUNGAN

  1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
  2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

kandangnya jangkrik (baskom raksasa buat nampung air)


Jangkrik jantan (sedang mengerik!!)


Jangkrik Betina (tampak ovopositor untuk menanam telur)



Jangkrik betina sedang mananam telirnya dalam wadah tupperware berisi pasir bangunan yg lembab


kandang Bayi Jangkrik (Aquarium nganggur)


ini zoomnya, maklum cuma bisa zoom segini karena keterbatasan lensa

(jangan lupa tempat minumnya kasi sponge klo nda ntar tenggelem bayinya)



Jumat, 23 Juli 2010

Memelihara Bekisar

BEKISAR


2 Votes
Quantcast

MENU ARTIKEL BEKISAR

I. ASAL-USUL BEKISAR
III. CARA-CARA MENGAWINKAN INDUK BEKISAR

II. INDUK PENGHASIL BEKISAR YANG BAIK

A. Memilih Pejantan
B. Memilih Induk Betina
C. Cara Menghasilkan Aneka Bekisar

1. Cara menghasilkan bekisar berbulu merah
2. Cara menghasilkan bekisar berbulu putih
3. Cara menghasilkan bekisar berbulu kuning, abu-abu, jali, dan wido

A. Pengawinan dengan Cara Dodokan
B. Penjodohan dalam Kandang

1. Penjodohan dalam kandang bersama
2. Penjodohan dalam kadang bersekat

C. Inseminasi Buatan

IV. SELEKSI KELAMIN ANAKAN BEKISAR

A. Seleksi Kelamin dengan Melihat Ciri Luar
B. Seleksi Kelamin dengan Melihat Kloaka

V. PERAWATAN DARI ANAKAN HINGGA DEWASA

I. ASAL-USUL BEKISAR

Ayam bekisar merupakan hasil kawin silang antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dengan berbagai jenis ayam, misalnya ayam kampung (Gallus domestica). Kawin silang ini dapat menghasilkan bekisar dengan wama bulu beragam.

Ayam hasil kawin silang ini sebenarnya telah dikenal ratusan tahun yang lalu. Namun, pada masa itu bekisar hanya dikenal oleh kalangan tertentu, misalnya raja atau bangsawan. Kini bekisar tidak hanya jadi milik bangsawan. Siapa pun bisa memiliki jenis ayam ini.

Usaha pengawinsilangan antara ayam hutan hijau dengan ayam kampung ini bermula di Pulau Kangean, sebuah pulau kecil di sebelah timur Pulau Madura, termasuk wilayah Kabupaten Sumenep. Di pulau inilah pertama kali bekisar “dibuat”. Dari Pulau Kangean bekisar menyebar ke Pulau Madura. Di Madura dan sekitamya unggas ini menjadi kebanggaan masyarakat. Bahkan, di Jawa Timur unggas cantik ini dinobatkan menjadi fauna identitas atau maskot propinsi. Sekarang penyebaran bekisar sudah meluas ke seluruh pelosok tanah air.

KEMBALI KE MENU ARTIKEL

II. INDUK PENGHASIL BEKISAR YANG BAIK

Sekarang ini sudah tidak aneh lagi bila bekisar dilombakan, bahkan lomba bekisar merupakan acara yang rutin diadakan setiap tahun. Bekisar yang dilombakan tidak hanya dinilai suaranya, tetapi juga penampilan dan keserasian warna bulunya. Oleh sebab itu, dalam membuat bekisar, mutu induk jantan dan betina harus diperhatikan.

A. Memilih Pejantan

Untuk menghasilkan bekisar yang bermutu bagus, dipilih pejan-tan berupa ayam hutan hijau yang sehat, tubuhnya besar dan bagus, serta jenggemya tegak dan berwarna cemerlang. Selain itu, pejantan harus bersuara bagus dan rajin berkokok karena suara inilah yang menjadi daya tarik keturunannya nanti. Pejantan juga harus pemberani karena pada umumnya ayam hutan takut kepada ayam kampung. Untuk bisa dikawinkan, dipilih ayam hutan jantan yang sudah berumur lebih dari dua tahun.

Ayam hutan hijau memiliki kombinasi warna bulu hitam, merah, dan hijau mengilat. Jenggernya tebal dan tegak berdiri. Pialnya hanya satu. Bentuk tubuhnya gagah dan bagus dengan pandangan mata tajam. Bila disilangkan dengan ayam kampung, sifat-sifat ini akan diturunkan ke anaknya.

B. Memilih Induk Betina

Induk betina juga menentukan mutu bekisar yang akan dihasilkan. Dari induk yang berbeda akan diperoleh macam-macam bekisar yang berbeda pula. Secara umum, ayam betina yang baik untuk induk bekisar adalah ayam yang sehat, besarnya tidak melebihi ayam hutan jantan, berbulu tebal, dan berjengger wilah (bergerigi). Selain itu, ayam betina harus sudah berumur enam bulan dan koteknya keras serta panjang. Paduan kotek ayam betina seperti ini dengan kokok ayam hutan yang bagus akan menghasilkan bekisar yang bersuara bagus pula.

Selain mewariskan bentuk jengger dan suara pada anak-anaknya, induk betina juga menentukan variasi warna bulu keturunannya.

C. Cara Menghasilkan Aneka Bekisar

Aneka bekisar dapat diperoleh dengan mengawinkan induk yang mempunyai wama bulu tertentu. Cara-caranya sebagai berikut.

1. Cara menghasilkan bekisar berbulu merah

Untuk menghasilkan bekisar berbulu merah, ayam hutan hijau dikawinkan dengan ayam kampung betina yang berbulu merah, hitam merah, atau kecokelatan. Betina yang berbulu hitam dapat diperoleh dengan mengawinkan jago cemani berbulu hitam yang bersuara bagus dengan cemani betina berbulu hitam yang berukuran kecil. Anak cemani hasil perkawinan itu disilangkan dengan ayam hutan hijau jantan.

2. Cara menghasilkan bekisar berbulu putih

Bekisar berbulu putih saat ini masih merupakan bekisar yang langka dan harganya cukup mahal. Untuk menghasilkan bekisar seperti ini, H. Ali Thamin, seorang pakar sekaligus penangkar bekisar di Jakarta, mengawinkan ayam kampung jantan dan betina yang sama-sama berwarna putih. Keturunannya (Fl) dikawinkan dengan sesamanya (Fl). Hasil perkawinan antara Fl ini — berupa F2 — juga dikawinkan dengan sesamanya sehingga menghasiikan F3. Demikian seterusnya sampai diperoleh F5. Setelah diperoleh F5 yang berbulu putih mulus, lalu dikawinkan dengan ayam hutan hijau. Hasil perkawinan ini berupa bekisar berbulu putih mulus.

Bisa juga ayam hutan jantan yang berwarna hijau dikawinkan dengan ayam kampung berbulu putih, tanpa melalui seleksi sampai F5. Namun, bekisar yang dihasilkan umumnya tidak putih mulus.

Bisa juga dengan mengawinkan ayam ras jantan yang berbulu putih dengan ayam kampung betina yang berwarna putih. Ayam ras jantan berbulu putih ini gen warna putihnya lebih kuat dibanding ayam kampung. Oleh karena itu, warna putih akan diwariskan ke anak-anaknya. Keturunan pertama (Fl) dikawinkan dengan sesama Fl sehingga diperoleh F2. Keturunan kedua (F2) yang berukuran kecil dan berwama putih dikawinkan dengan ayam hutan jantan yang berwarna hijau. Perkawinan ini akan menghasilkan bekisar berbulu putih mulus.

Menurut Kasno Sarif, petemak dan pedagang bekisar di Jakarta, bekisar putih dapat diperoleh dengan mengawinkan betina ras yang berbulu putih dengan jantan kampung yang berbulu putih atau warna lainnya. Kemudian, keturunan yang berbulu putih mulus dikawinkan dengan ayam hutan jantan yang berwarna hijau.

3. Cara menghasilkan bekisar berbulu kuning, abu-abu, jali, dan wido

Untuk menghasilkan bekisar berbulu kuning, induk betinanya harus ayam kampung yang berbulu kuning atau kekuningan.

Untuk memperoleh bekisar berbulu abu-abu dan jali, induk betinanya juga ayam kampung yang berwarna abu-abu dan jali.

Bekisar berwarna wido bisa diperoleh dengan mengawinkan jago kampung berbulu putih dengan betina kampung putih hingga diperoleh Fl. Keturunan pertama ini dikawinkan dengan sesamanya hingga diperoleh F2. Keturunan kedua ini dikawinkan dengan ayam hutan hijau jantan. Hasilnya berupa bekisar berbulu wido, merah, dan blorok. Bekisar wido bisa juga diperoleh dari ayam beti-na berbulu wido atau hitam yang di leher dan sayapnya mempunyai sedikit warna keperakan.

KEMBALI KE MENU ARTIKEL

III. CARA-CARA MENGAWINKAN INDUK BEKISAR

Ada beberapa cara mengawinkan ayam hutan hijau jantan dengan ayam kampung: cara dodokan, penjodohan dalam kandang, dan inseminasi buatan. Masing-masing cara tersebut dapat dilakukan seperti berikut ini.

A. Pengawinan dengan Cara Dodokan

Cara mengawinkan ayam hutan dan ayam kampung yang umum dilakukan oleh masyarakat Kangean adalah cara kawin tipu atau dikenal dengan dodokan. Tidak semua orang bisa melakukan cara ini karena perlu keahlian dan keterampilan tersendiri. Untuk melaksanakan kawin tipu ini, dipilih ayam hutan yang sudah jinak dan siap kawin. Juga disiapkan ayam kampung betina yang akan dikawinkan. Bulu-bulu ayam betina yang menutupi dubumya dicabuti sampai bersih agar ayam jantan tidak stres karena alat kelaminnya tercocok bulu si betina.

Selanjutnya ayam betina diikat kakinya dan tubuhnya dipendam dalam tanah dengan dubur menungging ke atas. Agar ayam tidak bergerak, badan di antara kedua sayap dipantek dengan paku besar atau pantek bambu. Ekornya diikat ke samping sehingga duburnya lebih menonjol ke luar. Kepalanya ditutup dengan rerumputan agar tidak terlihat si jantan.

Bila ayam betina sudah selesai dipersiapkan, diperlukan seekor ayam hutan betina sebagai pemikat dan pembangkit berahi. Sebelumnya, si jantan yang berada dalam kurungan didekatkan pada betina yang “tersandera” kira-kira 1 m jaraknya. Setelah itu, pawang

memegang ayam hutan betina dengan menggenggam kedua pangkal pahanya dan menyodor-nyodorkan dubur ayam hutan betina, lalu si jantan bersama kurungannya digiring mendekati betina kampung yang disandera.

Bila berahi si jantan mulai memuncak, ia segera akan mematuk jengger ayam hutan betina. Jika sudah demikian, segera ayam pemikat digeser ke punggung ayam kampung yang terletak lebih rendah. Kalau si jantan sudah nangkring di punggung betina hutan, dengan segera ayam itu digeser sehingga tidak menghalangi ayam kampung. Dengan akal-akalan ini si jantan tetap menggigit jengger betina hutan, tetapi yang dikawini adalah betina kampung yang siap di bawahnya.

Setelah perkawinan selesai, ayam kampung yang disandera dilepas dan dubumya ditutup dengan tempurung kelapa agar tidak dikawini oleh ayam jantan lain. Ini dilakukan untuk menjaga kemurnian silangan.

Membuat bekisar dengan cara dodokan ala Kangean ini sekarang sudah banyak dimodifikasi, misalnya tanpa memendam ayam betina dalam lubang atau tanpa pemikat ayam hutan betina. Cara dodokan yang demikian memerlukan pejantan yang agresif, berani, dan sudah jinak.

Untuk mendapatkan ayam jantan yang demikian, perlu kesabaran dan ketekunan. Ayam hutan jantan biasanya dipelihara sejak kecil dan dirawat dengan baik. Agar agresif dan berani, ayam hutan perlu latihan sejak masih anakan. Misalnya, anak ayam dibiasakan berhubungan dengan manusia sesering mungkin, setiap pagi dijemur, sangkarnya dipindah-pindahkan, dan didekatkan dengan ayam kampung betina. Latihan demikian akan membentuk pejantan dewasa sebagai pemacek dodokan yang tidak malu dan tidak penakut.

Apabila ayam pejantan sudah menunjukkan tanda-tanda siap kawin, kita ambil ayam betina yang akan dikawinkan. Pejantan yang siap kawin bila didekati ayam betina akan menceker-cekerkan kaki dan mengepakkan sayapnya. Bila sudah demikian, ayam betina yang akan dikawinkan dipegang kedua kakinya dan didodokkan dalam sangkar ayam pejantan. Ayam pejantan yang berani itu akan segera menghampiri ayam betina dan mengawininya. Ayam betina yang sudah dikawini selanjutnya dilepas dalam kandang tersendiri dan tidak dicampur dengan ayam lain.

Meskipun sudah dilatih, sering terjadi ayam pejantan tidak mau mengawini ayam betina yang disodorkan. Pada umumnya ayam hutan hijau jantan senang pada ayam kampung yang mirip dengan ayam hutan betina yang berwarna kecokelatan. Oleh karena itu, tidak jarang penangkar memanipulasi betina semirip mungkin dengan ayam hutan. Cara ini akan memperlancar proses perkawinan kedua jenis ayam itu.

KEMBALI KE MENU ARTIKEL

B. Penjodohan dalam Kandang

Membuat bekisar dapat juga dilakukan dengan cara penjodohan dalam kandang. Dengan cara ini ayam hutan jantan dan

ayam kampung betina akan kawin dengan sukarela, tanpa tipuan atau paksaan. Ada beberapa model penjodohan dalam kandang: penjodohan dalam kandang bersama dan penjodohaji dalam kandang bersekat.

1. Penjodohan dalam kandang bersama

Cara ini sebaiknya menggunakan kandang ren yang berhalaman agar ayam dapat hidup lebih bebas dan leluasa. Ayam jantan yang dijodohkan umumnya sudah jinak, pemberani, dan umurnya lebih dari dua tahun. Betina berumur enam bulan, siap bertelur atau sudah pernah bertelur. Ada juga yang menjodohkan ayam jantan dewasa dengan ayam kampung betina yang masih anakan. Kedua ayam yang berbeda umur ini ditaruh dalam satu kandang. Setelah enam bulan ayam betina siap menjadi induk.

Dalam kandang ini bisa dijodohkan pasangan tunggal, artinya satu pejantan dengan satu betina. Dapat juga dengan pasangan ganda, artinya seekor pejantan dengan dua atau lebih betina. Kalau jantannya sudah jinak, pasangan dalam satu kandang ini biasanya cepat akrab. Perkawinan akan segera berlangsung bila si jantan sering berkokok berulang-ulang, jenggernya tegak dan tampak cerah cemerlang, lagaknya gagah, dan kakinya suka menceker-ceker.

Setelah terjadi perkawinan, biasanya betina akan bertelur. Telur yang dihasilkan segera diambil untuk ditetaskan di tempat lain atau dierami induknya sendiri. Kalau akan dierami oleh induk sendiri, sebaiknua betina dan telumya diambil dan ditempatkan dalam kandang tersendiri atau jantannya yang dipisahkan.

2. Penjodohan dalam kadang bersekat

Kandang bersekat adalah model yang ruangnya dibagi dua dan dipisahkan dengan sebuah sekat. Sekat dibuat dari jeruji bambu sehingga memungkinkan ayam yang dijodohkan masih bisa saling melihat pasangannya. Bila kandang sudah siap, ayam jantan dimasukkan ke salah satu ruangan dan ayam betina di ruang satunya. Cara ini juga perlu pejantan yang jinak dan betina yang sudah masanya bertelur. Sepasang ayam dalam kandang bersekat ini lama-kelamaan akan saling mengenal dan tampak rukun. Bila ayam jantan dan betina sudah menunjukkan tanda-tanda siap kawin, mereka dapat dipertemukan dengan memindahkan betina ke dalam ruang pejantan atau melepas sekat yang membatasinya.

Tanda tanda ayam jantan yang sudah siap kawin adalah jenggernya berdiri dan bewarna merah, sering mengepak-ngepakkan sayap, berkokok terus-menerus, tampak bersemangat dan bila melihat ayam kampung lebih agresif, dan suka menabrak-nabrak sekat pemisah seolah ingin mengejar pasangannya. Betina yang sudah siap kawin biasanya kelihatan tidak tenang dan sering berkotek. Bila sudah demikian, ayam betina diangkat dan dimasukkan ke dalam kandang ayam pejantan. Bila penyekatnya dipasang tidak permanen, bisa ditarik sehingga jantan dan betina dapat bertemu dan kawin. Sebaiknya mereka dibiarkan kawin beberapa kali untuk memantapkan hasilnya. Setelah itu, betina dikembalikan ke tempatnya agar bertelur.

C. Inseminasi Buatan

Membuat bekisar juga dapat dilakukan dengan inseminasi buatan. Cara ini memang agak rumit sehingga butuh keterampilan untuk melakukannya.

Pejantan yang akan diambil spermanya dipilih yang sehat, sudah jinak, berumur kurang iebih dua tahun, dan kandangnya terpisah dari ayam betina. Untuk merangsang keluarnya sperma, dilakukan pemijitan pada bagian perut dekat kloaka.

Pengambilan sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang paha dan sayap, lalu mengempitnya di antara ketiak. Seorang lagi mengangkat ekor dengan tangan kiri, ibu jari dan telunjuk disiapkan untuk memijit sisi lubang kloaka. Sementara itu, tangan kanannya mengurut perut di bagian bawah tulang panggul. Pengurutan ini menyebaban si jantan terangsang dan mengeluarkan sepasang papila dari kloakanya. Bila papila telah keluar sempuma, pijitan dilakukan dengan tangan kiri. Akibat pijitan ini, sperma akan keluar dan segera ditampung dalam tabung reaksi atau cawan porselin, lalu disedot dengan alat suntik yang telah dilepas jarumnya.

Pengambilan sperma seperti ini dapat membuat ayam stres. Oleh karena itu, dibutuhkan ayam jantan yang sudah benar-benar jinak. Selain itu, karena sempitnya anus dan rongga kloaka ayam hutan, tidak jarang pengambilan sperma dengan teknik pemijitan di daerah sekitar kloaka sering mengalami kesulitan. Untuk menghindari hal itu, kini telah diteliti metode inseminasi buatan yang lebih praktis. Dr. drh. Hardijanto, M.Sc., Staf pengajar FKH Unair Surabaya, telah melakukan teknik pengambilan sperma ayam hutan dengan cara penyedotan menggunakan spuit. Menurutnya, cara ini lebih praktis dan dapat mengurangi stres.

Sperma yang telah diambil dari ayam hutan harus segera digunakan. Tentu saja sebelumnya dipilih betina yang umurnya lebih dari enam bulan dan sudah masanya bertelur. Penyuntikan sperma ke ayam betina dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang ayam betina dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menekan bagian perut yang lunak sehingga lubang saluran telur dan lubang usus keluar. Yang seorang lagi memegang alat suntik berisi sperma. Bila ayam betina sudah siap, ujung alat suntik dimasukkan ke kloaka dan sperma disemprotkan ke dalamnya. Dengan inseminasi buatan ini setiap ekor betina cukup diberi 0,05 cc sperma.

Sperma yang diambil dari ayam jantan bisa juga diencerkan dulu. Pengencer yang digunakan bisa kuning telur dan glukosa dengan perbandingan satu bagian sperma, empat bagian kuning telur, dan satu bagian glukosa. Segera setelah diambil dan diencerkan, sperma harus disuntikkan ke ayam betina. Dengan sperma yang telah diencerkan ini, setiap ekor betina cukup diberi 2 cc.

Selain kuning telur dan glukosa, pengencer sperma juga dapat berupa campuran kuning telur dan air kelapa dengan perbandingan 10:1 suhu 30° C. Pengencer lainnya lagi yang dapat digunakan adalah larutan NaCl pada pH 7—8 atau air susu. Pada saat pengeceran sebaiknya juga ditambahkan antibiotik untuk meningkatkan daya tahan hidup dan menghambat pertumbuhan bibit penyakit.

Bila fertilitas .sperma penjantan tinggi, ayam betina sedang dalam masa bertelur, dan inseminasi buatan dilakukan dengan benar, pada hari kedua telur yang dihasilkan sudah berisi benih berkisar.

KEMBALI KE MENU ARTIKEL




IV. SELEKSI KELAMIN ANAKAN BEKISAR

Seleksi jenis kelamin pada ternak unggas sudah umum dilakukan, misalnya pada ayam petelur. Hal ini pun berlaku untuk temak bekisar. Karena bekisar yang diperlukan hanya yang jantan, jenis kelaminnya harus diketahui sedini mungkin. Bila sudah dapat dipilih, perawatan selanjutnya dapat difokuskan untuk bekisar jantan saja. Dengan demikian, makanan maupun curahan perhatian akan lebih efisien.

Kesulitan yang sering dijumpai adalah bekisar yang baru menetas tampak hampir sama wama dan corak bulunya sehingga sulit dibedakan jantan betinanya. Meskipun demikian, ada beberapa cara untuk mengetahui jenis kelamin bekisar: dengan melihat ciri luarnya atau dengan melihat kloakanya.

A. Seleksi Kelamin dengan Melihat Ciri Luar

Dengan melihat ciri luarnya, kita dapat membedakan jenis kelamin bekisar, misalnya dengan melihat warna kakinya, bentuk jengger, atau warna bulunya.

Dari induk yang berkaki putih, kuning, atau wama terang lainnya, akan dihasilkan bekisar dengan wama kaki jantan dan betina yang berlainan. Bekisar jantan akan memiliki kaki yang warnanya mengikuti warna kaki induk betinanya, yaitu putih, kuning, atau warna muda lainnya, sedangkan yang betina kakinya berwarna gelap, yaitu hitam, hijau, atau warna tua lainnya.

Dilihat dari bentuk jenggernya, anakan bekisar jantan biasanya akan mewarisi bentuk jengger induk betinanya. Kalau kita

mengawinkan ayam kampung betina yang berjengger bilah dengan ayam hutan jantan, anakan jantan akan bejengger tebal dan bergerigi, sedangkan anakan betina akan betjengger seperti ayam hutan jantan.

Seleksi kelamin dengan melihat kaki atau jengger dapat dilakukan pada anakan yang berumur sehari. Ini tidak berlaku untuk anakan yang induknya berbulu hitam atau dominan putih.

Seleksi kelamin dengan melihat wama bulu hanya dapat dilakukan setelah anakan bekisar berumur dua bulan. Bulu suri depan, sekitar tembolok, bekisar jantan secara bertahap akan berubah warna, akan tampak warna hitam, merah, atau totol-totol. Bekisar betina akan berbulu cokelat kekuningan mirip ayam hutan betina atau wama lain yang akan tetap bertahan hingga dewasa.

Haryanto Sutejo, penangkar ayam hutan dan bekisar di Surabaya, membedakan anakan bekisar jantan dan betina dengan melihat garis hitam memanjang dari kepala sampai ekor. Bila garis hitam itu terputus di leher, berarti anakan itu betina. Bila tidak terputus, berarti jantan.

B. Seleksi Kelamin dengan Melihat Kloaka

Cara ini lebih tepat dibandingkan cara sebelumnya, tetapi lebih membutuhkan keterampilan dan pengalaman. Segera setelah anakan bekisar menetas seleksi kelamin harus dilakukan, paling lambat 36 jam setelah menetas. Pada saat ini anak ayam belum diberi makan atau minum hingga kloakanya belum mengeras dan ini memudahkan seleksi. Selain itu, juga bertujuan untuk mengurangi stres pada anakan bekisar. Dari kloaka akan diketahui jenis kelaminnya. Organ kelamin jantan akan tampak kecil sekali, bentuknya seperti kepala jarum. Ini dapat terlihat dalam penerangan cukup. Pada anakan betina bentuk seperti itu jarang ditemukan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membedakan jenis kelamin anakan bekisar melalui kloaka adalah sebagai berikut.

1. Anakan yang baru menetas dipegang dengan tangan kanan.

2. Lehernya dijepit di antara jari tengah dan jari manis tangan kiri.

3. Perut bagian bawah diraba dengan ibu jari dan kelingking tangan kiri. Bila terasa keras, anus anak ayam diletakkan pada wadah kotoran yang sudah disediakan.

4. Punggung anak ayam diketuk-ketuk perlahan dengan jari tengah tangan kiri hingga kotoran keluar dan jatuh ke penampung.

5. Bagian bawah lubang anus ditekan dengan ibu jari tangan kanan mengarah ke atas.

6. Telunjuk tangan kanan juga ditaruh pada anus.

7. Ketiga jari – telunjuk kanan, ibu jari kanan, dan ibu jari kiri -digerakkan bersama-sama sehingga anus terbuka dan kloaka bagian dalam menonjol keluar.

8. Kloaka diamati di bawah lampu dan dikenali jenisnya kelaminnya. Jika ada tonjolan sebesar kepala jarum, berarti anakan tersebut jantan.

KEMBALI KE MENU ARTIKEL

V. PERAWATAN DARI ANAKAN HINGGA DEWASA

Untuk mendapatkan suara maupun penampilan bekisar yang berkualitas, dibutuhkan perawatan intensif sejak masih anakan sampai dewasa.

Bekisar anakan diberi pakan voer 521. Setelah berumur enam minggu, diganti dengan voer 591 ditambah protein hewani, misalnya belalang, larva semut merah, atau jangkrik yang diberikan seminggu sekali. Setelah dewasa, voer tidak diberikan lagi. H. Ali Thamin mempunyai resep ransum untuk bekisar dewasa, berupa campuran jagung, beras merah, ketan hitam, dan kacang hijau dengan perbandingan 3:4:1:1/4. Ada kalanya pada setiap 10 kg ransum ditambahkan dua sendok madu dan dua sendok minyak ikan.

Lain halnya dengan Made Parwata. Peternak dan pedagang bekisar di Bali ini masih tetap memberikan voer untuk bekisar de-wasa. Menurut pengalamannya, 1 kg voer ditambah cincang rum-put gajah sebanyak 20% dari voer yang diberikan cukup untuk 15 ekor bekisar dewasa. Selain itu, dua hari sekali bekisar diberi pakan tambahan berupa juice buah, telur, dan madu. Satu liter juice buah (tomat atau alpukat) biasanya dicampur dengan tiga butir telur dan dua sendok madu. Made Parwata juga memberikan pakan tambah-an berupa ulat hongkong atau ulat daun pisang yang diberikan seminggu sekali. Paling tidak sepuluh ekor ulat untuk setiap ekor bekisar. Minumnya berupa air bersih yang telah dimasak dan setiap hari diganti. Sebagai tambahan dapat juga diberikan vitamin C atau vitamin B kompleks.

Agar kuat, unggas ini perlu dijemur setiap pagi hari selama ku-rang lebih dua jam. Ada baiknya juga bekisar dimandikan seminggu sekali agar bulu-bulunya tetap bersih dan bagus. Bekisar yang cukup mendapat perawatan bulunya tampak bersih dan mengkilat, matanya tajam, energik, dan tidak segan-segan memamerkan suaranya yang nyaring.

Kandang sebaiknya tetap dijaga kebersihannya. Kotoran dibersihkan setiap hari dan tidak dibiarkan menumpuk dalam kandang. Dengan menjaga lingkungan tetap bersih dan memperhatikan kebutuhannya, niscaya akan didapat bekisar yang benar-benar bagus. (Pernah dimuat di Majalah Trubus)

from omkicau.com

Rabu, 21 Juli 2010

Budidaya Arwana Unggul

Budidaya Arwana (terapan)

Budidaya arwana telah berhasil dikembang sejak lama. Kegiatan ini berawal dari pembesaran di akuarium. Namun pada sekitar menjelang tahun 2000 Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar berhasil memijahkan ikan yang konon membawa hoki bagi pemiliknya, secara alami.

Pematangan gonad dan seleksi

Pematangan gonad ikan arwana dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm dan tinggi 50 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 40 cm; pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan; masukan seekor induk arwana; beri pakan berupa ikan kecil atau udang kecil; bersihkan dan ganti air setiap minggu. Seleksi induk jantan dan betina masih sulit dilakukan. Hingga sekarang penulis masih belum membedakan antara induk jantan dan betina. Penulis juga belum menemukan referensi yang menjelaskan soal itu.

Pemijahan

Pemijahan arwana dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; isi air setinggi 60 – 80 cm dan biarkan mengalir secara kontinyu; masukan 50 ekor induk arwana; beri pakan berupa ikan-ikan kecil dan udang kecil. biarkan memijah secara alami.

Catatan : Ikan arwana akan memijah secara alami. Pemberian pakan biasanya cukup dilakukan beberapa kali saja, misalnya ikan nila atau ikan seribu, maka kedua ikan itu akan berkembang dengan sendirinya. Demikian juga dengan udang keci biasanya akan muncul sendiri, karena udang-udang termasuk binatang liar.

Panen

Panen dilakukan tiga bulan setelah musim hujan, sekitar bulan Juli dan Agustus. Caranya, surutkan air kolam hingga setinggi 20 – 30 cm atau hingga ketinggian dimana benih bisa ditangkap; tangkap induk arwana dengan sekup net halus; masukan ke dalam plastik dan tampung di hapa halus yang dipasang dekat kolam pemijahan; tangkap pula benih; masukan ke dalam ember; tebar ke dalam akuarium yang sudah disiapkan, dengan kelengkapannya.

Catatan : Untuk menghidari gangguan selama pemijahan berikutnya, maka ikan-ikan liar, terutama nila ditangkap. Setelah selesai panen, semua bagian kolam diperbaiki, terutama pematang, dilapisi dengan tanah dasar, bila ada bocor dibongkar dan ditutup lagi dengan tanah,

Diambil dari Blog Alumni SPB ( Sekolah Perikanan Bogor )

Kelalaian adalah sumber malapetaka bagi penggemar. Sekali saja lalai tidak mengontrol aerator akuarium, bisa-bisa arwana mati. Apalagi ceroboh, tentu lebih fatal akibatnya. Maka bagi penggemar yang sungguh-sungguh mencintai Ikan Arwana, pastilah memperhatikan seluk-beluk di sekitar perawatan. Harapannya, agar arwana dalam akuarium atau dalam Budidaya Arwana & Budidaya Ikan Arwana bisa tampil anggun dan asri. Lantas apa yang harus dilakukan?

1. Perhatikan peralatan aquarium
Berhasil tidaknya akuarium menjadi tempat yang nyaman bagi Ikan Arwana, sungguh dipengaruhi oleh kelengkapan sarana pendukungnya.

Aerator
Fungsi aerator atau pompa udara adalah menyuplai udara ke dalam air akuarium, dan sekaligus menguapkan atau mendorong hasil sisa-sisa pembakaran ke luar dari akuarium atau kolam
Budidaya Arwana & Budidaya Ikan Arwana. Aerator dikatakan baik, jika arus listrik yang menggerakkannya kecil, tetapi udara yang ditiupkannya relatif banyak.

Heater & Thermometer
Alat pemanas (heater) ini diperlukan terutama pada waktu suhu air akuarium ikan
Arwana Red turun drastis. Sedangkan alat pengontrol suhu air atau termometer juga dipasang dalam akuarium. Di daerah dingin, heater dan termometer ini sangat dibutuhkan.

Filter
Fungsi filter atau penyaring untuk menyaring air dalam akuarium. Kerja filter mencakup ini untuk menyedot air akuarium, menyaring, dan mengembalikannya lagi ke dalam akuarium dalam kondisi bersih.

Lampu TL
Keberadaan lampu TL, selain menyinarkan cahaya, juga sanggup mempercantik penampilan akuarium. Tapi, jangan sampai sinar lampu TL justru menimbulkan panas yang melebihi kebutuhan. Idealnya untuk akuarium seluas 80x40 cm memerlukan lampu TL berdaya 20 watt.

2. Rajin melakukan perawatan akuarium
Mau tak mau jika Anda terlanjur mencintai ikan arwana dalam akuarium, cukuplah rajin melakukan perawatan. Sebab déngan demikian itu, penampilan arwana dalam akuarium tampak sehat, segar, dan menyenangkan.

Pemberian makanan
Menu utama
Red Arwana & Ikan Arowana dalam akuarium adalah kelabang. Tapi jangan terus- menerus diberi kelabang, sebaiknya divariasi déngan makanan lain. Contohnya: udang, kecoa, katak, lipan, kadal, maupun jangkrik.

Pengontrolan & pergantian air
Dan jangan lupa, air akuarium dari
Red Arwana & Ikan Arowana juga diganti. Namun pergantian air dipilahkan menjadi dua, yakni: (a) pergantian air secara reguler setiap 2 hari sekali dengan volume 10% dari seluruh volume air akuarium, dan (b) total pergantian air dilakukan setiap 3 bulan sekali. Jika Anda menggunakan air PAM, sebaiknya dibiarkan 24 jam terlebih dahulu agar kandungan khlor mengendap, dan setelah itu bisa dimasukkan ke dalam akuarium.

3. Penataan interior akuarium
Kehidupan di dalam akuarium adalah replika lingkungan hidup di alam bebas. Oleh karena itu, perlu penataan interior dalam akuarium
Ikan Arwana Red. Ini berarti menuntut apresiasi estetika, sehingga perpaduan antara keindahan akuarium dengan anggunnya ikan Arwana Red sanggup menampilkan nuansa kesejukan yang harmonis.

Tanaman air
Mengingat asal-muasal
Ikan Arwana Red yang suka bersembunyi di bawah tanaman air, maka kita pun siap menyediakan tanaman dimaksud. Ada beberapa jenis tanaman air yang dapat dipilih antara lain: Vallisneria spiralis, Hidrilla verticillata, Riccia fluiutana, Higrophila polisperma, Pistia stratiotes, Najas indica, dan sebagainya.

Temukan info ikan hias di Ikan Arwana | Budidaya Arwana | Budidaya Ikan Arwana | Arwana Red | Ikan Arwana Red | Red Arowana | Arowana Red | Budidaya Ikan | Red Arwana | Ikan Arowana dan Ikan Arwana : Budidaya Ikan Arwana & Ikan Arwana Red - Red Arowana Jakarta pada 88db.com


http://www.sinarharapan.co.id