Kamis, 25 Maret 2010

Ditulis oleh Newsroom

Friday, 13 March 2009

Tidak semua orang bisa melakukan budi daya lele dumbo. Sebab, untuk skala usaha, dengan kapasitas ternak yang besar, tentunya membutuhkan lahan yang luas dan pembuatan kolam sekat tembok atau beton. Dan, otomatis biaya yang dibutuhkan pun sangat besar.

Permasalahan di atas telah menyurutkan banyak peternak untuk mengembangkan budi daya lele dumbo. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki lahan pesawahan dan sumber air yang memadai. Apalagi di perkotaan, lahan yang tersedia sangat minim sekali.

Padahal, jika mereka tahu solusi alternatifnya, permasalahan tadi bisa diselesaikan dengan mudah, yaitu melalui teknik budi daya di kolam terpal. Melalui teknik ini, Anda tidak membutuhkan lahan yang luas dan biaya yang besar. Anda hanya membutuhkan beberapa perangkat dan lahan sedikit. Bahkan, Anda bisa membuatnya di pekarangan rumah atau di kebun.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku “Budi Daya Lele Dumbo di Kolam Terpal”, teknik budi daya di kolam terpal memiliki tiga jenis, yaitu kolam terpal di atas permukaan tanah, kolam terpal di bawah permukaan tanah, dan kolam beton atau tanah berlapis terpal. Semuanya memiliki teknik pembuatan yang berbeda-beda.

Dalam buku yang ditulis Khairuman SP. Toguan Sihombing & Khairul Amri SPi, MSi. dijelaskan bahwa untuk membuat kolam terpal di atas permukaan tanah agar sesuai dengan standar kebutuhannya, rapi, dan kokoh, Anda mesti mengikuti beberapa petunjuk berikut.

  1. Tentukan dan persiapkan lahan yang akan digunakan. Pastikan bahwa lokasi yang dipilih cukup mudah dijangkau sumber air. Minimal, air bisa dialirkan menggunakan slang.
  2. Bersihkan lahan dari benda-benda yang dianggap mengganggu, misalnya rumput atau pepohonan yang terlalu rimbun sehingga kolam atau bak bisa mendapatkan sinar matahari secara langsung.
  3. Siapkan tonggak atau tiang utama. Jika kolam yang dibuat berukuran panjang 6 meter dan lebar 4 meter, tancapkan tonggak kayu sebagai tiang utama di setiap sudut kolam. Jika lebih dari satu petak, atur tata letaknya agar terlihat rapi. Tancapkan juga tonggak pendukung lain. Idealnya, jarak antartonggak sekitar 1 meter.
  4. Untuk pembuatan kerangka, kayu kaso yang telah dipilih dipotong-potong sesuai ukuran bak yang akan dibuat. Agar bak kelihatan bagus dan rapi, kaso yang akan dibentuk sebelumnya harus diserut atau dibersihkan dengan penyerut kayu. Selanjutnya, kayu dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Untuk menyatukan potongan-potongan kayu menjadi kerangka, gunakan paku berukuran 7 atau 9 cm. Agar bak plastik tidak langsung bersentuhan dengan dasar atau lantai bangunan, maka posisi bak ditinggikan 5 cm di atas lantai. Dengan demikian, setiap bak diberi kaki-kaki setinggi 5 cm.
    Untuk pembuatan dinding dan dasar bak dari bahan bambu, sebaiknya diambil dari yang sudah tua. Bambu tersebut sebelumnya dibersihkan dengan golok agar terlihat mulus. Selanjutnya, bambu dipotong-potong dan dibelah-belah sesuai dengan ukuran panjang atau lebar bak yang dibuat, masing-masing setebal 4-5 cm. Bambu-bambu tersebut selanjutnya dipaku ke semua kerangka bagian dalam bak, baik untuk bagian dasar maupun bagian sisi bak (dinding bak). Dalam memaku kerangka sebaiknya dilakukan secara hati-hati agar bambu tidak pecah. Kalau perlu, bagian bambu yang akan dipaku telah dilubangi sebelumnya.
  5. Jika bak sudah berbentuk, misalnya kotak berukuran 6 x 4 x 1 m, atur kemiringan dasarnya ke salah satu sisi untuk memudahkan pada saat pengeringan dan pemanenan ikan.
  6. Letakkan paralon beserta knee secara horizontal di sisi bak paling rendah sebagai tempat untuk pembuangan air. Paralon yang digunakan berukuran diameter 2.5 inci.
  7. Setelah kerangka bak selesai, langkah selanjutnya adalah memasang plastik bagian dalam bak. Berikut langkah-langkahnya.
    • Siapkan terpal berukuran 8 x 6 m yang telah dipres.
    • Pasang terpal sebaik-baiknya hingga merapat ke tepi. Bagian sudutnya dapat dilipat.
    • Agar plastik kelihatan rapi dan tidak mengerut, di bagian dinding bak paling atas dijepit dengan bilah bambu.
  8. Di bagian paralon pembuang air, terpal bisa dirobek sedikit dengan cara mengguntingnya berbentuk bintang agar bisa dipasang knee.
  9. Selanjutnya, lakukan pengisian air hingga mencapai kedalaman 30 cm. Pastikan tidak ada kebocoran pada terpal, sehingga volume genangan air tetap utuh. Jika ada terpal yang sobek atau bocor, segera lakukan penambalan.
  10. Kolam atau bak terpal siap digunakan dan ditebarkan benih.

Selain itu, jika berkeinginan, Anda juga bisa membuatnya dengan kerangka dinding dari susunan bata atau media lainnya yang menurut Anda bisa kokoh menahan beban air di dalam terpal.

Untuk pembuatan kolam terpal dari jenis kolam terpal di bawah permukaan tanah dan kolam beton dan tanah berlapis terpal, Anda bisa membaca buku “Budi Daya Lele Dumbo di Kolam Terpal” sebagai rujukan utama. Dalam buku ini, dijelaskan pula secara rinci karakteristik lele dumbo, peralatan pendukung budi daya, sistem penebaran benih, teknik pemeliharaan, pemanenan, dan menangani hama dan penyakit, dan peluang usaha budi daya lele dumbo.




Terakhir Diperbaharui ( Friday, 13 March 2009 )

Untuk Banda Aceh dan sekitarnya Kami menyediakan Benih Ikan lele dengan Kualitas yang Baik dengan ukuran 4-5 cm seharga Rp.300/ekor Untuk informasi selengkapnya silakan hubungi Lukman (085277441601) ==> Kami antar sampai ketempat.

Lele: Dua Bulan Panen

INI CERITA 4 TAHUN LALU. BERAWAL DARI MENGUNJUNGI BEKAS LAHAN SAWAHNYA YANG TAK TERURUS MARLIANA MARZUKI DIBERI NASEHAT SEORANG PEMUKA DESA YANG LAHANNYA BERTETANGGA. 'BILA KAMU PENSIUN, PAKAI TANAH ITU UNTUK BETERNAK LELE'. TIGA TAHUN BERSELANG USAI PURNAKARYA SEBAGAI TENAGA MEDIS DI KALIMANTAN TIMUR, MARLIANA MEMBANGUN KOLAM LELE DI ATAS LAHAN ITU. IA MENEBAR 12.000 BIBIT LELE PAITON DI PENGHUJUNG DESEMBER 2008. BERJARAK 2 BULAN, AKHIR FEBRUARI 2009, IA MEMANEN 4,5 KUINTAL LELE SENILAI RP4,5-JUTA.

Bermodal Rp170-juta Lin, panggilannya, membentengi lahan seluas 1.300 m2 di Desa Larangan, Cilegon, Provinsi Banten, dengan tembok semen setinggi 2 m. Di lahan itu alumnus sekolah perawat di Cikini, Jakarta Pusat, itu membangun 7 kolam tanah berukuran sama: 5 m x 7 m. Tidak semua kolam itu berisi lele. Lin hanya membenamkan masing-masing 4.000 bibit paiton sepanjang 8-10 cm di 3 petak kolam. Maklum ini budidaya pertama.

Lin membeli bibit paiton seharga Rp250 per ekor itu dari Pusat Pembibitan Lele Paiton di Pandeglang, Provinsi Banten. Paiton dipilih karena laju pertumbuhannya jauh lebih cepat daripada dumbo. Paiton sendiri merupakan silangan betina lele eks Thailand dan jantan dumbo. Untuk mencapai ukuran konsumsi 7-10 ekor/kg Clarias gariepinus itu cukup dipelihara 2 bulan; dumbo 3 bulan.

Dengan tingkat kematian di tahap pembesaran 5%, dari total 12.000 bibit ditebar, 11.400 ekor bertahan hidup sampai akhir Februari 2009. Selepas sortir, Lin memanen 6.000 ekor ukuran konsumsi, total berbobot 4,5 kuintal. Pengepul ikan di pasar Cilegon membelinya Rp10.000 per kg. Pada panen perdana itu Lin mengantongi pendapatan

Rp4,5-juta. Dipotong ongkos produksi Rp8.500/kg, ibu 1 putra itu mengantongi laba bersih Rp675.000. Sekitar 20 hari berikutnya 5.400 paiton tidak lolos sortir tahap awal siap dipanen. Artinya Lin mendulang 4,5 kuintal lagi.

Sangkuriang

Nun di Sleman, Yogyakarta, Erli membenamkan 14.000 bibit lele di kolam seluas 48 m2 pada akhir Desember 2008. Dua bulan berikutnya peternak di Desa Sindumartani itu menjala 1 ton clarias. Dengan harga jual ukuran konsumsi Rp10.500/kg, Erli menangguk pendapatan Rp10,5-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp8.000/kg, ia meraup laba bersih Rp2,5-juta.

Sejatinya Erli meraup laba bersih sebesar itu setelah 3 bulan memelihara lele. Namun, itu saat masih beternak dumbo. Kini yang dipeliharanya jenis sangkuriang. Inilah lele unggul hasil perbaikan genetik dumbo, silangan crossback antara induk dumbo betina F2 dan jantan F6. Peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi merilisnya 5 tahun silam setelah terbukti sangkuriang dapat dipanen cepat, 60 hari. Keunggulan lain, nilai konversi pakan rendah, FCR 0,9; dumbo FCR 1,0-1,1.

FCR penting karena mempengaruhi pendapatan peternak. Begini gambarannya. FCR sangkuriang 0,9, artinya untuk menghasilkan 100 kg sangkuriang dibutuhkan 90 kg pakan. Dengan volume pakan serupa, cuma diperoleh 90 kg dumbo. Di sini terdapat selisih bobot panen sebesar 10 kg atau setara Rp105.000/kg. Jika Erli memanen 1 ton, sesungguhnya ia mengantongi penghasilan plus sebesar Rp1.050.000.

Lele paiton dan sangkuriang memang membuat peternak jatuh hati. Marliana dan Erli kepincut karena kedua jenis lele itu mempunyai waktu budidaya singkat, 60 hari. Dengan singkatnya masa produksi, 'Perputaran uang juga cepat sehingga bisa menambah modal atau nafkah,' kata Wagiran, ketua Kelompok Perikanan Trunojoyo di Kulonprogo, Yogyakarta.

Menurut Ade Sunarma MSi, periset sangkuriang dari BBPBAT, sangkuriang lahir sebagai jawaban keluhan peternak atas lamanya waktu budidaya dumbo. Saat pertama kali masuk di tanahair pada pertengahan 1990-an, masa budidaya lele asal Thailand itu cukup singkat, ukuran konsumsi dicapai 60-70 hari dari bibit ukuran 3-5 cm. Namun, seiring terjadinya inbreeding alias perkawinan sedarah sesama induk, ukuran konsumsi dicapai 100 hari. 'Makanya dilakukan perbaikan mutu sehingga muncul sangkuriang yang cepat panen,' kata Ade. Alasan sama juga berlaku untuk paiton.

Tren

Budidaya lele memang tengah marak. Penelusuran Trubus ke sentra lele seperti Bogor dan Indramayu (Jawa Barat), Kulonprogo dan Sleman (Yogyakarta), hingga Boyolali (Jawa Tengah) menunjukkan terjadinya kenaikan jumlah peternak. Menurut Wagiran, di Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo, kini terdapat 208 kelompok perikanan yang terdaftar di dinas perikanan. 'Dari jumlah itu 70% di antaranya pembesar sangkuriang dan paiton,' katanya.

Menurut Tati SP dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, peternak pemula lele pada 2008 mencapai 637 kelompok dengan anggota 6.200 peternak. Penyebarannya tidak terbatas di Pulau Jawa, tetapi ke daerah lain: Nusa Tenggara Barat (49 kelompok, 575 peternak), Nusa Tenggara Timur (14 kelompok, 96 peternak), Jambi (15 kelompok, 183 peternak), hingga Riau (18 kelompok, 125 peternak) dan Kepulauan Riau (76 kelompok, 764 peternak). Jenis yang dikembangkan dumbo, sangkuriang, dan paiton.

Menurut Saptono, ketua kelompok Tani Mino Ngremboko di Sleman, Yogyakarta, lele selalu dibutuhkan konsumen untuk memenuhi kecukupan gizi. Apalagi kini harga sumber protein hewani seperti daging sapi dan ayam sulit dijangkau. Penyerap terbesar rumah makan kakilima atau warung tenda yang menjamur di sepanjang jalan kota-kota besar. 'Kebutuhan mereka cenderung bertambah,' kata Saptono yang mencontohkan kebutuhan Kota Gudeg 30 ton lele/hari, tetapi baru terpenuhi setengahnya. Hal sama terjadi di Jakarta (75 ton/hari) dan Malang (4 ton/hari).

Daya tarik itu pula yang menggiring Sambas beternak sangkuriang. Peternak di Desa Kracak, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, itu mengelola 10 kolam bervariasi ukuran: 6 m x 10 m dan 8 m x 10 m di lahan 1 hektar. Rata-rata setiap bulan ia memanen 4,2 ton lele. Sambas dengan mudah memasarkan hasil panenannya. 'Berapapun produksi saya bisa menjualnya,' katanya. Mitra pedagang pengepul bahkan meminta Sambas menyuplai 1-3 ton per hari.

Rintangan

Beberapa batu kerikil siap menghadang peternak. Salah satunya tidak boleh telat panen. Idealnya ukuran konsumsi terdiri atas 7-10 ekor/kg. Begitu sekilo 5-8 ekor/kg atau lebih besar lagi, 2-5 ekor/kg, harga turun 30-40%. Lele ukuran besar dapat dipasarkan ke kolam pemancingan. Namun di sini serapannya kecil 1-2%. Maka dari itu Nining di Boyolali menyiasati dengan membuat beragam olahan lele: abon, keripik, bakso, dan nugget. 'Pasarnya luas terutama toko oleh-oleh,' ujar ketua kelompok Karmina itu. Kelompok ini, misalnya, menjual 70 kg per hari abon lele dengan harga Rp90.000/kg.

Harga pakan yang terus membumbung membuat peternak sulit mengelak. Menurut Kris Nugroho SPi, staf pemasaran perusahaan pakan ikan di Jawa Tengah, kenaikan harga itu lebih disebabkan bahan baku pakan, tepung ikan, masih diimpor dari Amerika Latin (Chile dan Peru). Sewindu lalu harga per sak isi 30 kg hanya Rp78.000 kini berkisar Rp190.000-Rp200.000.

Pakan memang kebutuhan terbesar. Jumaryanto, peternak di Kulonprogo, menjelaskan untuk 4.000 bibit ukuran 3-5 cm sampai panen (2 bulan) diperlukan sekitar 3,5 kuintal pelet. Perinciannya: 3-4 kg (pakan 99) selama 10-15 hari; 5 kg (pakan ukuran 2 mm) selama 5 hari; 10 kg (pakan ukuran 3 mm) selama 5-10 hari; dan 200-250 kg pakan campuran sampai panen. 'Paling tidak biaya pakan mencapai Rp2,5-juta-Rp2,7-juta,' katanya.

Menurut Saptono, peternak perlu mewaspadai serangan penyakit. Selain aeromonas yang datang setiapkali pancaroba, 'Yang sekarang banyak terjadi serangan penyakit kuning,' katanya. Clarias yang terjangkit penyakit akibat bakteri ini tubuhnya mendadak kuning, lama-lama mati. Penyakit ini timbul sebagai dampak sanitasi kolam jelek dan pemberian pakan rucah. 'Penyakit ini tidak menyebar ke lele lain, tapi cukup menganggu,' ujar Saptono.

Bulan baik

Batu sandungan tak melulu menyambangi peternak di sektor hulu. Di hilir para pedagang pengepul pun sulit mengelak dari hambatan. Ratusan juta melayang dari genggaman Harianto saat memasarkan lele, 2,5 tahun lalu. Tak tanggung-tanggung uang tertunggak di pedagang lain mencapai Rp350-juta. 'Saya sampai menggadaikan rumah untuk menutupi biaya yang sudah keluar,' kata pengepul di Malang, Jawa Timur, itu.

Karena belum memiliki jaringan pemasaran Asep Garlih di Bekasi mencoba menerobos langsung. Dua tahun lalu pemilik toko alumunium itu mengirimkan 4 ton lele dari Purwokerto ke pedagang di Jakarta. Setelah ditimbang volumenya susut 5% setara 200 kg. Dengan harga Rp9.000/kg, Asep kehilangan Rp1,8-juta. 'Pernah mengirim 5 kuintal, tapi pengepulnya bilang hanya 460 kg,' ujar Asep.

Toh beragam rintangan itu tak menghalangi peternak membudidayakan ikan bersungut itu. Apalagi saat datang bulan baik: menjelang puasa, lebaran, dan tahun baru. Di saat seperti ini permintaan lele meroket. Dampaknya laba yang diraup peternak lebih tinggi karena harga jualnya saat itu mencapai Rp11.000-Rp12.000/kg. Pantas banyak yang bertahan beternak lele. Janji laba itu pula yang membuat Marliana Marzuki mantap membuka kolam lele di masa pensiunnya. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan, Tri Susanti, Rosy Nur Aprianti, dan Faiz Yajri)

Sumber : http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=1752



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar